Rabu, 22 Januari 2014

Imunosupresi pada Ayam Broiler

Imunosupresi adalah kondisi di mana antibodi terdepres karena gangguan pada organ limpoid. Gangguan pada organ limpoid menghasilkan antibodi yang tidak optimal. Organ limpoid itu antara lain adalah timus, bursa fabrisius, lien, lempeng peyers, seca tonsil, kelenjar herderian serta limpglandula di saluran pernapasan dan pencernaan. Gangguan dapat terjadi karena agen infeksius maupun non infeksius.

Bila demikian adanya maka individu ini mudah terserang penyakit, baik viral mapun bakterial. Respon terhadap vaksinasi untuk antisipasi penyakit juga  terganggu. Pengobatan dengan antibiotik juga tidak efektif.

Beberapa penyakit yang menyebabkan immunosupresi antara Latin; Mareks, gumboro, koksidiosis dan mikotoksikosis.Kondisi lain non infeksius adalah stress yang berkepanjangan baik karena cuaca yang ekstrim maupun managemen yang sub optimal.

Langkah yang bijak adalah identifikasi penyebab dan  meminimalisir penyebab yang ada. 

Bila pembaca punya pengalaman lain bolehlah share di sini. Bagaimana pula bila menggunakan immunomodulator?

Selasa, 25 Desember 2012

Mikotoksikosis di Musim Hujan

ochratoxicosis
gambaran pathologi
Mikotoksikosis adalah penyakit yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh jamur. Jamur bisa berasal dari ladang maupun saat penyimpanan. Perkembangan jamur dipengaruhi oleh kelembaban dan temperatur lingkungan. Penyakit yang disebabkan oleh jamur sendiri di sebut mikosis.Berkaitan dengan musim hujan kita berhadapan dengan curah hujan yang tinggi dan mungkin kelembaban juga tinggi.
Berikut gambaran besar toxin pada ayam yang disebabkan oleh mikotoksin;

  1. Aflatoksin; dihasilkan dari Aspergilus flavus, Asergilus parasiticus dan Penicillium puberulum (Tabbu, 2002). Bersifat sangat toksik, target dari penyakit ini adalah hati yang berlemak yang ditandai dengan warna kekuningan, kenyal ,bengkak atau ada perdarahan(Aiello,1998). 
  2. Trikotesen; dihasilkan oleh Fusarium  dan memproduksi mikotesen paling tinggi terjadi pada temperatur 6-24 C pada kondisi kelembaban yang tinggi (Tabbu,2002). Bersifat caustik sehingga permukaan tubuh yang kontak baik kulit maupun mukosa mulut mengalami necrosis. Ayam yang mengkonsumsi ini akan menunjukkan turunnya nafsu makan, adanya lesi pada sekitar mulut, kaki, perdarahan atau iritasi(Hoerr,1997).
  3. Ochratoxin; dihasilkan oleh Penicillium viridicatum dan Apergilus ochraceus dan bersifat sangat toksik pada ayam. Pada kondisi akut ginjal, pankreas, hati mengalami kepucatan serta ditemukan viseral gout(Hoerr,1997)
Untuk membuat dugaan terhadap kasus ini diperlukan  anamnesa, sejarah, gambaran pathologi, gambaran histologi, pemeriksaan serum terhadap penyakit yang menyerupai, uji kultur jaringan terhadap virus atau bakteri terkait dengan gejala klinis yang tampak. Diagnosa pasti didapatkan setelah dilakukan analisa toksin baik identitas maupun jumlah toksinnya(Aiello,1998). 

Pada kondisi lapangan hal ini tentu sulit dilakukan karena diagnosa memerlukan waktu yang relatif lama, maka alangkah baiknya bila mendapatkan dugaan adanya mikotoksin, lakukan segera langkah-langkah yang bisa dilakukan di kandang. Mungkin kita bisa melakukan:

  1. Identifikasi pakan yang terduga mengandung mikotoksin, lakukan pencampuran atau ganti dengan pakan baru yang lebih baik
  2. Identifikasi gudang penyimpanan, apakah terlalu lembab atau temperatur terlalu tinggi? ventilasi kurang? Penyimpanan pakan terlalu rapat?. Bila iya lakukan koreksi atau sediakan tempat alternatif untuk penyimpanan.
  3. Gunakan sistem 'FIFO'. Pakan yang datang awal diberikan terlebih dahulu.
  4. Hindari menyimpan pakan yang terlalu lama.
  5. Berikan vitamin dan mineral serta asam amino untuk mengimbangi kebutuhan ayam.
  6. Lakukan pengobatan dengan antibiotik atau antiparasit terhadap ayam yang menunjukkan gejala sakit.
  7. Perbaiki manajemen bila masih 'substandard'.
Dengan melakukan tindakan di atas semoga bisa membantu mengantisipasi serangan jamur dan toksin di broiler kita.

REFERENSI
Aiello.S.E.,1998, The Merck Veterinary Manual Eight Edition, Merck & Co., Inc, White House Station, NJ, USA.
Hoerr,F,J.,1997, Disease of Poultry, tenth Edition, Iowa State University Press, Ames, Iowa, USA.
Tabbu,CR,2002, Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Vol2, Kanisius, Yogyakarta.

Sabtu, 15 Desember 2012

Biosekuriti pada Kandang Broiler

biosekuriti pada kandang broiler
Pepatah mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Mungkin ini bisa menjadi 'ruh' dalam biosekuriti. Biosekuriti sendiri merupakan suatu usaha mengamankan suatu kandang dari agen-agen biologis yang bisa mengganggu kesehatan dan produksi. Prinsipnya adalah mengurangi agen penyakit yang masuk ke dalam kandang serta melemahkan agen penyakit dari keganasannya. Kedisiplinan, perencanaan dan pengelolaan kandang menjadi sangat penting. Berikut hal-hal yang berkaitan dengan biosekuriti:

  1. Kandang. Kandang dan peralatan yang ada di dalamnya sebaiknya mudah untuk dibersihkan, dicuci dan didesinfeksi. Selain bisa memberikan sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan yang cukup, kandang juga bisa mencegah masuknya hewan liar seperti tikus dan burung liar atau hewan lain yang menjadi carrier suatu penyakit seperti bebek atau itik. Kenyataan di lapangan kandang-kandang banyak yang mengumpul dalam suatu lokasi membentuk suatu kompleks perkandangan. Hal ini mungkin juga berkaitan dengan dapat diterimanya keberadaan kandang oleh masyarakat sekitar. Sebisa mungkin kondisi ini bisa menggunakan sistem All In All Out.
  2. Lalu lintas orang. Dibutuhkan suatu kesadaran dari semua pihak baik dari pemilik, operator kandang maupun tamu yang berkunjung bahwa kehadirannya di kandang bisa menjadi pembawa agen penyakit. Contoh penyakit yang bisa dibawa oleh pengunjung adalah koksidiosis, ND atau tetelo, gumboro, AI, IB maupun kolera.
  3. Sanitasi. Keberadaan sekitar kandang semestinya dijaga kebersihannya secara rutin. Maksudnya adalah untuk mencegah masuknya serangga dan tikus. Ayam yang mati sebaiknya segera dipisahkan dari kandang dan dikubur.Selain itu untuk mencegah masuknya bibit penyakit ke dalam saluran pencernaan, air yang digunakan untuk minum juga perlu dijaga dari kontaminan. Misalnya klorin bisa digunakan untuk menurunkan kadar bakteri dalam air minum.
Hal-hal yang mungkin dilakukan di lapangan adalah;
  1. Melakukan komunikasi dengan komunitas peternak mengenai rencana chick-in.
  2. Melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kendaraan maupun orang yang berkunjung.
  3. Melakukan pembatasan lalu lintas orang dengan memagar kandang atau membuat portal larangan masuk.
  4. Tidak memlihara ayam kampung maupun bebek dan sejenisnya di lingkungan kandang.
  5. Mengubur bangkai ayam.
  6. Melakukan treatmen air minum.
Biosekuriti menjadi sangat penting terutama bila di lingkungan terjadi out break penyakit dan kondisi immunosupresi ditemukan  di lapangan. Lebih baik lagi bila hal ini dilakukan secara rutin dan disiplin meskipun di lapangan tidak ada out break, siapa tahu kondisi tubuh ayam sendiri yang lagi lemah?

Kamis, 06 Desember 2012

Bedah Bangkai pada Ayam



nekropsi di lapangan
nekropsi di lapangan
 
Bedah bangkai sering disebut juga nekropsi merupakan suatu upaya mengkoleksi data dari perubahan organ dalam ayam untuk membuat sebuah diagnosa. Untuk membuat diagnosa yang lebih akurat selain melakukan post mortem/nekropsi diperlukan juga data berupa; anamnesa, pemeriksaan fisik dan untuk meneguhkannya bisa melakukan uji laboratorium.  Untuk menginterpretasikan post mortem/nekropsi diperlukan pengetahuan mengenai anatomi dan pathologi  dari hewan tersebut.

Berikut cara melakukan bedah bangkai pada ayam.
  1. Letakkan ayam dengan posisi punggung di bawah.
  2. Iris atau gunting kulit pada bagian antara kaki dan perut. Lakukan pada sisi sebelah kiri dan kanan.
  3. Patahkan sendi pangkal paha dengan menggenggam dan menarik ke luar hingga posisi kaki rata dengan meja/lantai. Lakukan pada sisi sebelah kiri dan kanan.
  4. Potong kulit antara dua irisan tadi dan tarik ke atas atau iris hingga semua sisi bagian depan tubuh ayam tampak, termasuk daerah leher.
  5. Periksa kondisi kondisi daging bawah kulit yang tampak.
  6. Potong dinding perut secara melintang, dilanjutkan dengan memotong di kedua sisi dada termasuk tulang iga,coracoid dan klavikula pada kedua sisinya. Angkat potongan ini.
  7. Amati organ dalam yang tampak di permukaan.
  8. Untuk mengamati saluran pencernaan dan organ lainnya potong bagian depan provent dan tarik keluar. Organ lain tersebut adalah bursa fabricius, trachea bagian dalam, paru-paru dan ginjal.
  9. Amati perubahan pathologi yang ada.
  10. Untuk pemeriksaan daerah kepala, potong paruh secara melintang dan membujur di antara dua paruh.
Demikian cara melakukan nekropsi, dengan mengetahui anatomi, pathologi dan kebiasaan melakukan ini mudah-mudahan diagnosa yang dibuat lebih akurat. Semoga bermanfaat.

Bahan bacaan: Disease of Poultry, tenth edition